Roadshow 8 Kota “Gerakan Indonesia Berjamaah” dimulai di Kota Solo

Alhamdulillah.. Roadshow 8 Kota “Gerakan Indonesia Berjamaah” sudah berjalan, dimulai di Kota Solo dan akan berlanjut ke kota-kota selanjutnya.

Bagi Anggota Patungan Usaha silahkan mendaftar segera.

Pilihan Cara Daftar :

1. Via WhatsApp/SMS ke 0896-7614-0777
2. Via Email ke kopindoberjamaah@gmail.com
3. Via Telpon ke 021-73451933

dengan format :
Nama Lengkap, Tanggal Acara, Kota Pilihan

atau klik bit.ly/roadshow8kota

Langkah Kecil Yang Berwujud

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Tgl 3 Juni, malam. Di Hotel Siti Horison Bandara, saya sempet meneteskan air mata mendengar testimoni salah 1 peserta Patungan Usaha. Konsep nyata dari Ekonomi Berjamaah.

“Dipercaya itu menyenangkan. Sekaligus berat sekali. Di tengah tidak sedikit yang tidak percaya, maka bila ada yang masih percaya, bahwa hotel ini, sebagai proyek pertama Ekonomi Berjamaah, ini jadi support moril yang luar biasa.”

Beliau yang bertestimoni, ia seorang Dokter Spesialis Anestesi. Beliau juga dosen di Perguruan Tinggi. Dan ikut PatunganUsaha yang digagas sekitar setahun yang lalu. Beliau ikutan patungan sekitar 50jt.

“Saya korban iklan & tausiyah Ustadz,” katanya. Sambil senyum.
Waktu itu beliau tersentuh dengan semangat ekonomi berjamaah. Dan percaya. Daripada ditaro di bank biasa. Apalagi ini ada keuntungan2 lain. Keuntungan berjamaah.

“Walaupun dalam hati bilang,” katanya, “… Ini Ustadz Yusuf koq berani amat.”
Beragam pertanyaan, nyaris dikalahkan dengan kepercayaan terhadap konsep ekonomi berjamaah. “Masuk akal. Dengan berjamaah, bisa membeli dan mengakuisisi hotel. Sebagai dokter saya juga berpikir, bisa nih nanti patungan untuk bikin rumah sakit.”

Dokter ini bercerita, habis ikut, 3 pekan kemudian dikirim sertifikat dan buku. “Ustadz ini bener nih. Ini dikirim tanda terima patungan.”
Tapi ga lama, kemudian ramai di berita. Bahwa ini ilegal. Dan kemudian banyak berita negatif tentang Yusuf Mansur.

Dokter ini sempet cemas. Tapi beliau tepis dan menghibur diri. “Yah sudahlah. Kalo emang belom rizki & hilang, ga apa-apa. Sampai kemudian, hari Senen, tgl 2 Juni, saya terima undangan untuk Visit ke Hotel Siti Horison. Saya sempet bingung. Ini hotel apaan? Apa hubungannya dengan saya? Koq saya diundang untuk makan malam sambil liat progres pembangunannya?”

Dokter ini menelpon nomor yang tertera di sms. Dan surprise. Ternyata setahun berlalu sejak ikut, eh ternyata ini adalah Patungan Usaha yang beliau ikut!
“Karena saya semangat, saya datang ke Hotel Siti ini, habis ashar. Dan saya kaget. Ternyata hotelnya udah jadi. Bagus lagi. Ada aja, saya udah seneng. Dan ini subhaanaallaah. Bagus. Wujudnya nyata. Saya sempet malu. Ternyata di tengah berita yang simpang siur, Ustadz bener…”

Di sini saya netes air mata. Sempet malu juga. Diliat kawan-kawan yang lain.
Ketika saya mengusung tema-tema dakwah praktis, termasuk ngajarin dan ngajak usaha, memang banyak cacian makian dan hinaan. Juga ketidakpercayaan. Baik ketidakpercayaan akan niat baik, hingga disebut penipu, sampe tidak percaya, tar ga bakal jalan. Sebab saya seorang Ustadz. Bukan pebisnis.

Dokter ini semangat untuk ikut lagi nambahin jumlah patungan usahanya. “Untuk mempercepat proses penyelesaian Hotel Siti ini.”
Terima kasih yaa Allah. Terima kasih kawan-kawan semua. Saya memang belom bisa nguntungin apa-apa. Sebab hotelnya telat beroperasi. Banyak kendala dan hambatannya. Tapi alhamdulillaah. Dari sisi aset, nilainya terus bertambah, dan beda, pastinya, dari harga awal. Menjadi keuntungan lain dari kenaikan harga aset.

Dan alhamdulillaah, semua lebih melihat bahwa hotel ini memang sebuah pembuktian. “Jika kita bersama-sama, berjamaah, insyaaAllah bisa. Suatu saat, ga lama lagi, akan ada pesawat haji & umrah, dan hotel haji & umrah, di Mekkah & Madinah, yang sahamnya dimiliki oleh Jamaah haji & umrah. Pas terbang, kaptennya menyapa, selamat datang di pesawat Anda sendiri. Pas nginep, jamaah melihat tulisan “Milik Indonesia” dengan bendera kebanggaannya. Suatu saat pula, masyarakat tanah air pun bukan lagi sebagai penonton saja dari banyak kesempatan dan peluang usaha. Tapi juga ikut serta sebagai pelaku, dan ownernya.”

Alhamdulillaah.

Perjalanan Hotel Siti masih belom selesai. Masih perlu doa dari kawan-kawan lebih banyak lagi.
Menjelang pulang, ibu dokter ini bertanya, “Kenapa namanya Siti?”
Saya jawab, “Sebab penggagas Indonesia Berjamaah, Ekonomi Berjamaah, saya dan Mas Jody, nama istri kami… Siti…”. Dan ibu dokter ini, tersenyum…
Salam, @Yusuf_Mansur.