Alhamdulillah, Izin Hotel Siti Sudah Turun Sejak April 2015

Tidak ada proses yang sangat lama, sangat ribet, sangat komplek, dengan kesabaran dan bantuan semua pihak. Hotel Siti, tertanggal 27 April 2015 (di surat tanggal 21 April 2015), dah dinyatakan resmi boleh beroperasi. Alhamdulillah…
Saat memproses, Pak Walikota Tangerang, dengan semua instansi terkait, sangat support, dan sangat membimbing. Semua sepakat, prosesnya harus bener. Sebab menyangkut nama ustadz, hehehe. Biar ga timbul masalah baru.
Maka kemudian masalah diurai satu demi satu. Lalu diberesin, satu demi satu juga.
Pertama misalnya, Hotel Siti yang merupakan proyek akuisisi, dari pemilik lama, yang diterusin kawan-kawan Patungan Usaha punya problem kamar-kamar.
Dari hampir 300 kamar, 60 sempet terjual oleh Pemilik Lama, untuk mereka bertahan hidup. Dan akhirnya benar kolaps.
60 pemilik lama ga punya kepastian apa-apa. Hotel juga saat itu sangat berpotensi. Tapi kehabisan peluru dana.
Sampe kemudian saya masuk, dengan mengajak ummat. Ga usah pake bank dah. Dirame-ramein aja diselesaikan, dan dimiliki bareng.
Tapi baru langkah-langkah pertama, saya akhirnya mengetahui bahwa pengumpulan dana ada regulasinya. Niat baik ga cukup.
Alhamdulillaah, kawan-kawan OJK sangat membantu juga. Agar niat baik ini, bisa benar juga secara regulasi.
Walhasil, pembenahan akhirnya dari segala lini. Di depan, begitu banyak tantangan. Alhamdulillaah.
Mulai dari penyelesaian terhadap 60 pemilik kamar-kamar tersebut yang harus di buybackdulu, hingga ke penyelesaian 2 tower plus lain-lainnya.
Tidak boleh nya dulu melakukan agenda pengumpulan dana, saya dan kawan-kawan Patungan Usaha patuhi. Tapi bagaimana kemudian penyelesaian dananya? Asyik.

Kawan-kawan saya motivasi bahwa Allah ada. Dan Allah Maha Kaya. Banyak Tangan-tangan-Nya yang Allah kirim. Untuk membantu.
Pelaksanaan pendekatan hati ke hati ke 60 pemilik kamar-kamar lama, juga menyita waktu, tenaga, uang, dan lain-lain. Sementara, Patungan Usaha ditutup.
Kawan-kawan banyak melihat Kebesaran dan Keajaiban Pertolongan Allah. 60 orang itu sudahlah yang sedang sangat kecewa dengan pemilik lama. Mendadak, menjadi tantangan (baca: berkah masalah), buat kami. Sebagai pemilik baru. Dan kami menikmati. Tambah sendiri dan kawan.
Dalam ketiadaan dana untuk dan saat nego, apalagi kecuali berharap Kebesaran Allah? Alhamdulillaah, simultan 60 kamar, selesai. Tinggal sisa 3 kamar. Itu karena ga ada data sama sekali. Kemana harus negonya.
Persoalan berikut yang menghadang, adalah kenaikan harga kamar buyback. Plus ruko-ruko yang acak-acakan. Kenaikan harga kayak sekejapan mata. Atau setolehan muka. Mereka rata-rata percaya, bahwa Hotel Siti di tangan kita selesai.
Karena itu mereka minta penyelesaian harga. Ada yang naiknya hingga 2 Milyar per unit ruko. Mayan acak-acakan layoutnya.
Saya dan kawan-kawan meyakini, bahwa kami memang men-takeover segala masalahnya. Toh semuanya terukur. Kalo ga, mana punya hotel?
2 tower itu juga harus diselesaikan beban hutang kontruksi, dan lain-lain. Ilmu negoisasi, dibalut doa, megang peranan penting.
Hotel sendiri, harus dipotong. Ga bisa 12 lantai. Harus 10 lantai. Maka berarti motong 4 lantai. Subhaanallaah… Ga mungkin. Harus cari cara.
Dari satu masalah ke masalah lain, juga perlu waktu. Sebab harus hati-hati. Saya selalu dibesarkan kawan-kawan Patungan Usaha yang selalu bersabar. Bahwa mereka mau menunggu.
Saat saya tawarkan, gimana kalo dijual aja? Ke relasinya operator Hotel Siti sendiri. Yaitu Horison? Atau gmn?
Saya dan kawan-kawan ngumpulin perwakilan peserta Patungan Usaha. Saya unjukin 2 ruko. Yang kalo ga dibayarkan, ga akan punya parkir, dan lobi yang bagus.
Pilihan menjual, sebab ga tahan dengan problem demi problem, begitu menghantui. Hanya, ga boleh nyerah. Ada Allah.
Alih-alih saat itu, satu tahun yang lalu, pada rapat, agenda ketemuan dengan kawan-kawan perwakilan peserta, jadi agenda doa bareng. Indah.
Akhirnya dapet solusi.