Perjalanan panjang Hotel Siti

Perjalanan panjang Hotel Siti adalah perjalanan sejarah. Saya bertanggung jawab penuh agar dana ga hilang dan ga rugi.

Beban bunga BTN agar Hotel Siti berdiri dan tetap berlanjut, besarnya luar biasa. Sebuah kesalahan yang saya tidak sesali. Sebab melahirkan PayTren Payment Gateway dan PayTren Aset Manajemen. Dua model bisnis berbasis keummatan yang direstui oleh pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia.

Bunga perbankan yang di atas ratusan juta rupiah, bulanan, sejak 2013 efektif sd 2017, ditanggung sepenuh2nya tanpa membebankan kepada ummat. Juga perbedaan harga barang bangunan, sebab perbedaan tahun penyelesaian hotel, tetap tidak akan jadi tanggungan kawan2 semua.
Banyak yang belom selesai, banyak yang belom kecapai. Tapi seperti yang saya yakini. Ini perjalanan sejarah. Nampaknya dah mau menampakkan hasil juga.

Perihal rencana penjualan hotel siti, saya sdh mulai usahakan, dengan melakukan appraisal oleh team independent dari Kantor Jasa Penilaian Publik.

Alhamdulillah hasilnya telah keluar. Hasil penilaian menyebutkan bahwa asset Hotel Siti adalah sebesar Rp. 93.7 miliar.

Semoga dengan adanya hasil apraisal ini, segera bisa saya dkk susun pengembalian dana ke masyarakat dlm bentuk “untung”. Bukan sekedar pengembalian.
Semua berkorban. Termasuk kita semua. Semoga pengorbanan tidak sia2.

Dalam 1-2bl ke depan, pasca izin eMoney, kami akan melakukan pengembalian dana utuh, plus nilai bagi hasil yang merupakan kerahiman. Dihitung bagi hasil 4th walo proyeknya ga berjalan sesuai harapan. Kami bangga selama ini bisa amanah, tidak meninggalkan, dan tetap mengawal kawan2 semua. Hotelnya ada. Kami jual, tanpa merugikan kawan2 semua. Dan kami akan lbh lagi berkorbannya, demi cita2 mulia. Indonesia, berjamaah. Ummat, berjamaah. Bersama2 membangun negara, ummat, dan dunia. Untuk visi misi ini, kami memandang sama sekali tidak gagal. Mengarah kepada keberhasilan sempurna. InsyaaAllah proyek2 keummatan dan kebangsaan, mewujud, dlm keadaan semua muanya baik dan benar, sejak awal.
Selanjutnya ada di kolom komentar.

Bismillaah walhamdulillaah.
Tunggu informasi selanjutnya dari kami. Mhn izin, kami sendiri yang membeli hotel Siti, bukan orang lain. Tunggu emoney u/ PayTren. Sehingga hotelnya bisa diwakafkan ulang ke ummat, sebagai tambahan benefit bagi para peserta patungan usaha. Udah mah kembali duitnya, terima “bagi hasil” itungan 4th, plus proyeknya, hotelnya, diwakafkan pula.
Sekali lagi, bismillaah, walhamdulillaah. -Yusuf Mansur-

“Yuk Nabung Saham” jangan ikut yang bodong lagi ikut ini aja. Syariah bahkan sejak awal. Dikawal langsung oleh guru2 yang mulia di DSN MUI” yusuf mansur

PT Bank BRISyariah Tbk hari ini resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal. Dari saham 2.623.350.600 yang dilepas beberapa di antaranya dibeli oleh Yusuf Mansur dan jemaahnya. Yusuf Mansur melalui PayTren Aset Manajemen menjadi manajer investasi Kopindo dan melakukan Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) untuk membeli saham berkode BRIS itu. Presiden Direktur PT Bahana Sekuritas Feb Sumandar mengungkapkan, Kopindo masuk membeli saham BRIS melalui proses bookbuilding. Layaknya investor lainnya, Yusuf Mansur dan dan jemaahnya ikut dalam proses penjatahan.
.
Dalam proses bookbuilding biasanya investor mengajukan harga yang diinginkan untuk kemudian ditentukan harga pastinya oleh perusahaan. Menariknya Kopindo tidak melakukan penawaran, mereka siap membeli di harga apapun yang ditentukan perusahaan. “Jadi dia straight, mau ambil di angka berapapun. Kan kalau bookbuilding ada range harga dia bisa menyatakan ingin beli di harga atas atau bawah. Tapi dia straigh, mengikuti,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (9/5/2018). Pada saat penawaran, BRISyariah menawarkan harga sahamnya di kisaran Rp 505 hingga Rp 650. Akhirnya ditentukan di dekat batas harga bawah yakni Rp 510.
.
Feb juga mengatakan, sebenarnya pihak Yusuf Mansur menawar untuk membeli diangka yang cukup besar. Namun karena penawaran BRIS mengalami kelebihan permintaan atau over subscribe 4 kali di segmen ritel, maka Kopindo mendapatkan jatah lebih rendah dari yang ditawarkan. “Kemampuan beliau sebenaernya besar ya cuma memang kita karena ada alokasi. Tapi angkanya harus saya cek dulu. Tapi oke lah beliau sangat membantu proses IPO ini,” imbuhnya. Sementara Direktur Operasional BRISyariah Wildan menambahkan, porsi investor ritel dalam proses IPO sebesar 1% dari total dana Rp 1,3 triliun. Itu artinya penjualan saham BRIS dalam IPO hanya Rp 13 miliar. “Tapi saya enggak tahu jatah pastinya pak Yusuf Mansur karena belum dapat informasi dari Datindo. Masyarakat di ritel juga cukup banyak kemarin informasinya 6.037 pemegang saham. Itu pemegang saham terbesar selama IPO. Jadi sekarang BRISyariah mencatatkan sebagai pemegang saham terbesar selama IPO,” tuturnya.